PARENTING ARTICLES

/

OTHERS

Article Tablet Article Mobile

Perlukah Tes Alergi pada Anak

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan ibu pada dokter adalah apakah si Kecil perlu melakukan tes alergi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami dari Tim Ahli Nutriclub akan menjelaskan seberapa perlu si Kecil melakukan tes alergi.

Sebelumnya, Ibu perlu memerhatikan seluk-beluk dari tes alergi (Fakta tentang Alergi pada anak). Pemeriksaan diawali dengan penelusuran penyakit alergi dari proses anamnesis (wawancara dokter ke orangtua pasien atau pasien) mengenai keluhan yang dialami si Kecil, dilanjutkan ke pemeriksaan fisik. Apabila dari kedua tahap ini disimpulkan bahwa gejala yang dialami si Kecil adalah bagian dari suatu penyakit alergi, maka dapat dipertimbangkan untuk melakukan tes alergi.

 

Kapan Perlu Tes Alergi

Tes alergi tidak dilakukan pada seluruh kasus penyakit alergi. Tes alergi diperlukan untuk mengetahui faktor pencetus gejala alergi dan bukan untuk mendiagnosis penyakit alergi (Diagnosis Alergi Pada Balita). Tes alergi tidak perlu dilakukan apabila faktor pencetus alergi sudah diketahui dari proses tanya jawab dengan dokter dan terdapat hubungan antara faktor pencetus dengan timbulnya gejala.

 

Tes alergi dibutuhkan untuk pasien dengan gejala yang dicurigai sebagai penyakit alergi yang berat, persisten, atau berulang tanpa diketahui dengan jelas pencetusnya. Tes alergi juga perlu dilakukan untuk memastikan gejala itu benar karena alergi.

 

Ibu perlu mengetahui penyebab alergi pada si Kecil untuk menangani gejala alerginya secara efektif. Misalnya, si Kecil yang alergi debu tungau tidak perlu menyingkirkan kucing, tetapi cukup debu tungau. Tes alergi yang konkret memberikan informasi spesifik tentang apa yang menyebabkan (Penyebab Alergi pada Balita) dan tidak menyebabkan alergi.

 

Setelah mengidentifikasi penyebab alergi, selanjutnya Ibu perlu mengembangkan rencana pengobatan bersama dokter untuk menghilangkan atau mengendalikan gejala alergi pada si Kecil. Pantau perkembangan pengobatan tersebut untuk melihat peningkatan kualitas hidupnya.

 

Jenis-Jenis Tes Alergi

Metode tes alergi yang sering dilakukan adalah uji kulit (skin prick test/SPT/tes cukit kulit) atau pengukuran kadar imunogobulin E (IgE) spesifik di dalam darah. IgE adalah antibodi yang berperan dalam proses alergi. Kedua tes ini bertujuan untuk menentukan adanya IgE spesifik terhadap suatu alergen (zat pencetus alergi). Tes alergi dapat dilakukan untuk berbagai alergen makanan, alergen inhalan, dan beberapa macam obat. Namun, tidak semuanya tersedia di Indonesia.

 

1. Skin Prick Test (SPT)

Skin prick test tidak bersifat invasif, aman, hasilnya dapat diperoleh dengan cepat (15-20 menit), lebih murah dibandingkan pemeriksaan IgE spesifik dalam darah, dan memberi hasil yang cukup baik. Namun, tes ini tidak dapat dilakukan dalam keadaan:

    1. Kelainan kulit yang luas karena SPT harus dilakukan pada kulit yang sehat.
    2. Anak yang mengonsumsi obat antihistamin/obat antialergi. Jika konsumsi obat tersebut dihentikan, keluhan alergi yang timbul sangat berat dan mengganggu.
    3. Dermatografisme (keadaan kulit yang menjadi bentol dan merah apabila ditekan atau digores sesuatu).

 

Prosedur SPT dimulai dengan meneteskan beberapa jenis cairan alergen di daerah lengan bawah penderita alergi. Jarum akan digunakan untuk mencukit/menusuk kulit pada lokasi alergen. Proses ini akan menimbulkan sedikit rasa sakit tetapi tidak akan menimbulkan perdarahan. Setelah seluruh alergen dicukit, si Kecil perlu menunggu selama 15 menit. Setelah 15 menit, akan timbul bentol dan kemerahan di lokasi alergen yang sensitif.

 

2. Pemeriksaan IgE Spesifik Dalam Darah

Hasil pemeriksaan ini dapat diperoleh dalam hitungan hari dengan harga yang lebih mahal dibandingkan SPT. Namun, pemeriksaan IgE spesifik dalam darah dapat menjadi alternatif pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan SPT. Hasil SPT dan pemeriksaan IgE spesifik dalam darah setara, sehingga tidak perlu melakukan 2 pemeriksaan untuk saling mengonfirmasi.

 

3. Uji Tempel Kulit

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengevaluasi reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Uji tempel kulit dilakukan dengan menempelkan alergen di kulit selama 2-3 hari. Namun, pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan.

 

Hasil tes alergi dapat bervariasi dari waktu ke waktu, tergantung paparan yang dialami si Kecil terhadap alergen. Hasil tes alergi yang positif atau terdeteksinya IgE spesifik, baik pada uji kulit maupun dalam darah, hanya menandakan adanya sensitisasi dan tidak selalu menandakan bahwa alergen tersebut adalah pencetus gejala alergi yang dialami si Kecil.

 

Untuk itu, hasil tes alergi ini perlu digabungkan dengan anamnesis yang cermat untuk dapat menentukan alergen pencetusnya. Dokter akan menganalisis hasil pemeriksaan dan melakukan evaluasi apakah terdapat hubungan antara hasil tes alergi dan gejala yang timbul. Konfirmasi pencetus alergi dapat dilakukan dengan provokasi alergen, seperti uji provokasi makanan terbuka.

 

Pemeriksaan lain seperti kinesiologi, tes elektrodermal, bioresonansi, tes bandul, pemeriksaan IgG4, analisis rambut, dan analisis cairan lambung merupakan pemeriksaan yang tidak standar dan tidak terbukti sebagai bagian pemeriksaan alergi.

 

Sebagai kesimpulan, tes alergi dapat dilakukan untuk membantu menentukan alergen pencetus gejala alergi si Kecil. Anamnesis yang teliti mengenai gejala klinis si Kecil dan kemungkinan alergen pencetusnya akan sangat membantu untuk memilih jenis tes diagnostik yang diperlukan si Kecil, alergen yang akan diuji, dan interpretasinya. Identifikasi alergen pencetus alergi (Seluk-Beluk Alergi pada Balita) sangat penting untuk perencanaan penanganan penyakit alergi si Kecil yang komprehensif.