PARENTING ARTICLES

/

OTHERS

Article Tablet Article Mobile

Penyebab Alergi di Rumah

Banyak hal yang ada di dalam rumah yang menjadi pemicu timbulnya alergi. Maka dari itu, menjaga rumah agar tetap bersih dan kering penting untuk meminimalisir hadirnya pemicu alergi si Kecil.

Kekambuhan alergi (Penyebab Alergi Pada Balita) si Kecil dapat dipicu dari dalam rumah, seperti dari kotoran hewan peliharan, debu, dan remahan kayu dari rayap. Untuk meminimalkan paparan alergen, Ibu perlu mengetahui tempat-tempat di rumah yang paling banyak mengandung alergen.

 

  1. Hewan Peliharaan

Cukup banyak orang yang menderita alergi hewan. Alergi ini bukan alergi pada hewan seperti kucing atau anjing, tetapi pada pemicunya yang berasal dari cairan ludah, urin, atau sel kulit mati yang terbang di udara dan mendarat di karpet, furnitur, atau seprai. Bulu binatang juga bisa menyebabkan alergi (Gejala Alergi Pada Balita) karena mengandung debu dan sel kulit mati. Untuk mengurangi risiko alergi, Ibu perlu lebih sering membersihkan rumah dengan mengelap dan menyedot debu yang ada di rumah. Selain itu, cucilah tangan setelah mengajak main hewan kesayangan.

 

  1. Karpet

Karpet adalah penyebab utama si Kecil mengalami alergi debu karena serat-seratnya menyimpan kutu debu. Kurangi paparan debu si Kecil dengan membersihkan karpet menggunakan vacuum cleaner berfilter HEPA. Alternatifnya, singkirkan karpet dari rumah Ibu dan jaga kelembapan rumah di bawah 55%.

 

  1. Buku-buku

Buku bisa menjadi sarang kutu debu, spora, dan organisme berukuran sangat kecil lainnya yang bisa menjadi alergen. Siasati dengan menyedot debu pada permukaan buku secara teratur atau simpan buku dalam tempat tertutup.

 

  1. Sofa

Furnitur yang empuk biasanya juga menyimpan kutu debu. Untuk mencegahnya, gunakan bahan kulit, vinil, atau permukaan licin lainnya. Hindari juga menyimpan furnitur di tempat yang lembap.

 

  1. Tempat Tidur

Saat tidur, kita turut melepaskan sel-sel kulit mati yang akan tersimpan di tempat tidur dan menarik kutu debu. Cegah tumpukan kutu debu dengan menggunakan bahan antialergen pada bantal dan kasur. Selain itu, cucilah seprai dan sarung bantal seminggu sekali dengan air hangat.

 

Hal-hal yang dapat Ibu lakukan untuk meminimalisir alergen di rumah:

  1. Gunakan Penyaring Udara

Gunakan penyaring udara agar rumah terbebas dari berbagai jenis alergen. Cari filter udara yang mampu menangani partikel, seperti debu, tungau, atau bulu, dan materi kimia, lalu pasang di mana Ibu dan si Kecil menghabiskan sebagian besar waktu bersama, misalnya di ruang keluarga. Selalu pastikan kebersihan filter udara dan ganti jika perlu. Membersihkan AC juga merupakan salah satu langkah untuk mencegah Ibu dan si Kecil terkena alergi (Fakta Tentang Alergi).

 

  1. Perhatikan Benda dan Sarang Alergen

Tungau debu adalah salah satu alergen yang menyebabkan asma. Biasanya, mereka banyak terdapat di tempat tidur, karpet, furnitur berlapis, atau boneka. Oleh karena itu, selalu jaga kebersihan tempat tidur dan lingkungan sekitarnya. Perbaiki kebocoran atau bagian rumah yang mengalami kerusakan, sebab tempat-tempat tersebut dapat menjadi jalur masuk kecoak dan menjadi tempat sarangnya. Selain itu, selalu bersihkan bekas makanan yang terjatuh di lantai karena kecoak sangat menyukai sisa makanan.

 

  1. Buat Jadwal Rutin Untuk Membersihkan Rumah

Bersihkan seluruh bagian rumah minimal seminggu sekali, termasuk karpet, sofa, jendela, dan seluruh furnitur sambil menggunakan masker. Kondisi rumah yang bersih akan membantu mengontrol alergen.

 

  1. Pikirkan Kembali Soal Hewan Peliharaan

Pastikan tidak ada anggota keluarga yang alergi terhadap hewan. Bulu hewan peliharaan tidak menyebabkan alergi, tetapi protein dalam air liur, urin dan ketombe mereka dapat menjadi alergen. Untuk itu, pikirkan dengan matang bila Ibu dan si Kecil ingin memelihara hewan peliharaan.

 

  1. Menjaga Kebersihan Diri

Selalu jaga kebersihan si Kecil karena terdapat banyak partikel-partikel alergen yang berterbangan di sekitar kita, salah satunya adalah serbuk sari. Ketika pergi ke luar rumah, akan ada kemungkinan banyak serbuk sari yang menempel pada baju dan rambut. Untuk meminimalisir kehadiran alergen tersebut, ganti pakaian Ibu dan si Kecil saat sampai di rumah, dan mandi serta cuci rambut sebelum beristirahat.

 

  1. Menanam Filter Alami

Gunakan tanaman untuk membersihkan udara di sekeliling rumah Ibu. Tanaman dapat bertindak sebagai filter udara alami dan mampu menghasilkan oksigen yang baik. Semakin banyak tanaman yang dapat menyaring udara, baik di dalam maupun luar rumah atau kantor, maka akan semakin sehat lingkungan. Cegah kemungkinan berkembangnya alergen di media tanaman dengan menaburkan bebatuan akuarium di dalam pot tanaman agar tanah tidak terlalu lembap.

 

  1. Segarkan Udara di Rumah Secara Alami

Beberapa orang memiliki alergi terhadap wewangian. Ironisnya, banyak dari kita menggunakan pengharum ruangan untuk menyegarkan udara di dalam rumah. Jika tidak ada anggota keluarga yang alergi terhadap serbuk sari, lebih baik bukalah jendela rumah agar terjadi pertukaran udara di dalam rumah. Solusi lain dari permasalahan ini, Ibu bisa coba untuk menggunakan minyak essensial murni untuk menyegarkan udara di sekitar.

 

  1. Minimalkan Bahan Beracun

Banyak bahan bangunan berbahaya yang dapat melepaskan gas beracun ke udara, di antaranya adalah formaldehida yang terdapat pada kayu lapis dan beberapa insulasi busa. Dalam jangka pendek, formaldehida dapat menyebabkan batuk dan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Tetapi pada efek jangka panjangnya, bahan kimia ini mampu menjadi karsinogenik untuk manusia. Penting bagi Ibu untuk memastikan dan menggunakan bahan bangunan yang ramah lingkungan.

 

  1. Katakan Tidak Pada BPA

Bisaphenol A (BPA) adalah bahan kimia yang banyak digunakan dalam plastik, makanan dan minuman kemasan, botol air, dan beberapa peralatan medis. BPA dapat tertelan melalui udara dan debu, namun kebanyakan BPA masuk ke dalam tubuh akibat meresap pada makanan dan minuman dari wadah plastik. Hindari BPA dengan tidak memasukkan makanan dengan wadah plastik ke dalam microwave.

 

Hindari wadah plastik dengan kode daur ulang 3 dan 7. Selain itu, kurangi konsumsi makanan dan minuman kaleng, dan belajar untuk tidak menggunakan segala hal yang berhubungan dengan plastik di dalam rumah.