PARENTING ARTICLES

/

OTHERS

Article Tablet Article Mobile

Gangguan Alergi terhadap Kecerdasan Anak

Alergi tidak hanya sebatas reaksi berupa gatal, batuk, pilek, dan bersin, namun juga dapat menyerang organ lain, seperti tumbuh kembang otak. Kami dari Tim Ahli Nutriclub akan menjelaskan pada Ibu mengenai gangguan alergi dan dampaknya bagi kecerdasan si Kecil.

Alergen dibedakan menjadi tiga, yaitu alergen hirup, makanan, dan alergen suntik. Alergen hirup paling banyak dipicu oleh tungau debu rumah dan serbuk sari dengan reaksi berupa sesak napas, bersin-bersin, atau batuk. Sedangkan, alergi suntik dipicu oleh gigitan serangga atau suntikan dengan reaksi yang timbul pada kulit dalam bentuk beragam. Dari sini diketahui bahwa lingkungan sekitar si Kecil turut mencetus timbulnya alergi.

 

Gangguan alergi berdampak luas, di antaranya pada kecerdasan dan perilaku si Kecil. Penelitian menyebutkan bahwa anak yang alergi dapat mengalami gangguan seperti gangguan daya ingat, kesulitan bicara atau gagap, kurang konsentrasi, impulsif, hiperaktif, lemas, emosi yang terganggu, hingga autisme. Di masa 0-3 tahun, si Kecil sedang berada dalam periode perkembangan kecerdasan. Munculnya reaksi alergi pada masa ini akan mengganggu asupan nutrisi si Kecil yang berdampak pada perkembangan mentalnya.

 

Gangguan kecerdasan dan perilaku dapat dipicu oleh banyak hal, namun penelitian menemukan bahwa alergi adalah salah satu hal yang dapat mengganggu perkembangan otak (Alergi dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Otak Bayi) si Kecil. Selain itu, batuk, gatal, dan bersin membuat ia sulit berkonsentrasi dan menyerap pelajaran. Si Kecil yang alergi juga mengalami gangguan tidur sehingga ia bangun dalam kondisi tidak segar. Fisik dan mentalnya pun menjadi kurang prima.

 

Periode sakit yang dialami anak alergi jauh lebih lama dibanding anak sehat yang terkena penyakit yang sama. Contohnya, anak sehat yang terkena batuk-pilek bisa sembuh dalam waktu 5 hari, namun pada anak alergi baru bisa pulih setelah 2 minggu atau lebih. Anak alergi sangat rentan terhadap infeksi virus dan tidak menutup kemungkinan organ lain, seperti otak, bisa terserang penyakit virus atau infeksi.

 

Alergi dan Gangguan Bicara

Alergi dapat menyebabkan keterlambatan bicara pada 3-15% anak. Dari jumlah tersebut, 1% di antaranya tidak bisa berbicara, 30% dapat pulih dengan sendirinya, dan 69% mengalami gangguan bahasa, kognitif, dan keluhan belajar lainnya.

 

Si Kecil di bawah usia 1 tahun dengan alergi jangka panjang dapat mengalami gangguan bicara yang berat. Oleh karena itu, amati kemampuan bicara pada bayi. Jika pada usia tertentu ocehannya tidak terdengar, namun setelah menghindarkan makanan tertentu ia kembali berbicara, artinya terdapat reaksi alergi (Seluk-Beluk Alergi Pada Balita) pada si Kecil. Alergi juga bisa membuat bayi agresif, ditandai dengan kebiasaan menggigit dan menjilat secara berlebihan. Pada usia awal, hal ini bisa terlihat dari kebiasaannya memasukkan semua tangan dan kaki ke mulut.

 

Alergi juga memengaruhi mood si Kecil. Ia menjadi agresif, hiperaktif, mudah marah, histeris, dan sering berteriak. Gangguan lain dapat berupa gangguan bersosialisasi, seperti menjadi pemalu, sulit bergaul, dan menarik diri dari lingkungan.

 

Si Kecil yang mengalami reaksi alergi tampak pada teriakannya yang keras saat menangis. Bila minta minum, sering tidak sabaran. Pada anak yang berusia lebih besar, reaksi alergi ditunjukkan dengan sikap yang mudah marah dan histeris. Saat marah, semua benda yang dipegang dilempar dan sering memukul-mukul atau membenturkan kepala. Beberapa penelitian lain menunjukkan adanya hubungan antara alergi dengan gangguan kepribadian, seperti pemalu atau agresif. Pada tes kepribadian, terlihat pasien-pasien yang punya alergi lebih suka mengutamakan tindakan fisik dan lebih sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Penderita alergi juga mempunyai mekanisme defensif yang kurang baik.

 

Ibu tak perlu khawatir secara berlebihan, namun perhatikan faktor berikut untuk menjaga si Kecil dari gangguan alergi:

 

Makanan

Tiga tahun pertama merupakan periode emas bagi perkembangan otak anak. Oleh karena itu, berilah si Kecil asupan nutrisi (Nutrisi Untuk Mengurangi Risiko Alergi Pada Balita) terbaik agar otaknya berkembang dengan optimal. Asam lemak omega-3 sangat baik untuk perkembangan sel saraf si Kecil. Lemak ini bisa diperoleh dari ikan salmon dan tuna, kacang-kacangan, ayam, brokoli, alpukat, telur, dan buah beri, yang sangat baik untuk tumbuh kembang otak si Kecil.

 

Lingkungan

Lingkungan juga sangat memengaruhi kecerdasan si Kecil yang alergi. Lingkungan mencakup lingkungan rumah (saudara, orang tua), sekolah (guru, teman), dan sebagainya. Orang tua memiliki peran yang penting karena Ibu dan Ayah paling banyak berinteraksi dengan si Kecil dan memiliki hubungan emosi yang kuat dengannya, mulai dari bermain bersama, mengajari hal edukatif dan kreatif, dan masih banyak lagi.

 

Tidur

Saat si Kecil beristirahat, otaknya juga dapat beristirahat. Pada saat itu, sel otak akan membentuk sel saraf baru, dan perkembangan yang optimal ini membuat si Kecil tumbuh dengan baik meski memiliki alergi.

 

Orang tua

Hubungan orang tua yang erat dan harmonis banyak memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, Ibu dan Ayah perlu membangun hubungan yang baik agar si Kecil tumbuh dengan optimal.

 

Belajar

Sediakan fasilias belajar yang memadai bagi si Kecil, seperti sekolah, buku, dan sarana prasarana lainnya untuk menunjang pembelajarannya dengan baik.

 

Alergi merupakan gangguan yang sulit disembuhkan, namun penting untuk dideteksi (Diagnosis Alergi pada Balita) dan ditanggulangi sejak dini. Segera konsultasikan ke dokter apabila Ibu mencurigai si Kecil mengalami alergi agar dapat dilaksanakan evaluasi dan tata laksana lebih lanjut.