PARENTING ARTICLES

/

FEED

Article Tablet Article Mobile

Mitos Vs Fakta: Pantangan Makan bagi Ibu Menyusui

dr. Visakha

Reviewer : dr. Daniel Surjadinata, Sp.A

Mitos Pantangan untuk Ibu Menyusui

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang alami bagi bayi. Kandungan ASI sendiri terdiri dari karbohidrat (laktosa), protein, lemak, air, serta berbagai macam mineral dan kandungan antibodi.  Seringkali, Ibu yang menyusui khawatir jika makanan yang dikonsumsinya akan berpengaruh pada kandungan ASI. Mungkin, sebagian besar dari Ibu menghindari beberapa jenis makanan dengan tujuan mencegah masalah pada si Kecil. Faktanya, tubuh Ibu sudah didesain dan dipersiapkan secara apik saat masa mengandung. Ketika dibutuhkan, pembuluh darah dan kelenjar susu di payudara mampu menjadi mesin yang menyortir segala nutrisi yang dibutuhkan. Jika jenis makanan yang dikonsumsi telah memenuhi gizi seimbang, tentu tak perlu diragukan bahwa nutrisi yang sampai kepada si Kecil akan sesuai dengan zat-zat yang dibutuhkannya.

Pilih Makanan yang Tepat Selama Menyusui

Jika Ibu terlalu memilih-milih makanan tertentu, hal tersebut dapat berdampak pada kualitas dan kuantitas dari ASI yang dihasilkan. Menu harian yang dikonsumsi sebaiknya mengandung karbohidrat dan dilengkapi dengan protein, sayuran, buah, serta asupan air putih sesuai kebutuhan.

Variasi dan keseimbangan jenis makanan yang dikonsumsi merupakan kunci utama bagi Ibu selama menyusui. Bagi Ibu yang vegetarian, diperlukan penyeimbangan nutrisi lebih lanjut. Pastikan bahwa makanan yang dikonsumsi kaya akan zat besi, vitamin B12, asam folat, dan zinc. Nutrisi tersebut dapat diperoleh dari kacang, biji-bijian, dan produk olahan susu, untuk menggantikan zat-zat yang biasa didapatkan dari protein hewani.

Hindari Konsumsi Kafein berlebih selama Menyusui

Kafein dalam kopi yang dikonsumi, akan diteruskan ke dalam ASI, namun zat yang diteruskan adalah hasil metabolisme yang telah dipecah sehingga tidak menimbulkan efek yang signifikan pada bayi. Namun, hindari mengonsumsi lebih dari dua cangkir kopi per hari, karena akan menimbulkan dampak bagi Ibu maupun si Kecil.

Ibu membutuhkan waktu istirahat yang lebih, karena waktu tidur yang berkualitas telah tersita untuk menyusui si Kecil. Oleh karena itu, meminum kopi yang berlebihan sangat tidak dianjurkan. Meminum alkohol juga harus dihindari. Dibutuhkan waktu lebih dari dua jam bagi tubuh Ibu untuk membersihkan zat alkohol yang masuk ke dalam aliran darah, sedangkan Ibu harus kembali menyusui dalam waktu kurang dari dua jam, atau sesuai dengan kebutuhan si Kecil.

Did you know?

”Makanan yang mengandung kadar gula tinggi seringkali tidak membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian Ibu. Ibu sebaiknya mengganti konsumsi makanan manis seperti biskuit dan coklat dengan camilan sehat seperti biji bunga matahari dan kismis. Ketahui selengkapnya di sini.“

LIHAT LENGKAP

Tambah Konsumsi Makanan yang Mengandung DHA

Asam Deoksi Heksanoik (DHA) sangat dibutuhkan bayi untuk perkembangan sel-sel otak. Ibu dapat meningkatkan kandungan DHA dalam ASI dengan mengonsumsi ikan 2-3 kali per minggunya. Sumber DHA yang terbaik adalah ikan salmon dan ikan tuna. Ibu tidak dianjurkan untuk mengonsumsi swordfishtilefish, hiu, dan ikan mackerel karena kadar merkuri yang tinggi pada jenis ikan tersebut.

Jika Ibu tidak menyukai ikan, Ibu dapat mengganti asupan DHA melalui suplemen omega-3 dengan dosis yang disarankan oleh dokter. Perhatikan juga adanya pewarna makanan pada obat atau makanan yang dikonsumsi, karena dapat mengubah warna ASI Ibu.

Teliti Memperhatikan Pengaruh Konsumsi Makanan Ibu

Makanan yang pedas dan mengandung gas dapat ditoleransi bayi jika jumlahnya tidak berlebihan. Jika si Kecil sering kentut  dan feses menjadi lebih cair dari biasanya, cobalah untuk menghindari makanan tersebut selama beberapa minggu dan lihatlah apakah gejala masih menetap pada si Kecil.  Ketika mengonsumsi makanan kemasan, bacalah label dan hindari asupan dengan kandungan bahan tambahan dalam jumlah yang besar.4

Pada sejumlah kasus, sering ditemukan adanya alergi makanan pada bayi akibat makanan yang dikonsumsi oleh Ibu. Biasanya, alergi makanan disebabkan oleh produk susu, telur, dan gandum. Gejalanya dapat berupa fesesberlendir, berdarah, atau berwarna kehijauan, kemerahan pada kulit tubuh, hingga mengi, atau sesak nafas. Jika salah satu gejala atau lebih di atas muncul, sebaiknya hentikan konsumsi makanan yang dicurigai menimbulkan alergi. Jika gejala menetap dan memberat, Ibu dianjurkan agar membawa si Kecil ke dokter.

Setiap bayi yang lahir berbeda satu dan lainnya. Karakteristik anatomi pencernaan dan enzim yang terkandung di dalam saluran pencernaan masing-masing bayi tentu akan berbeda. Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian dan pengamatan pada sebagian besar bayi dengan karakteristik pencernaan yang normal. Jika si Kecil memiliki gejala yang tidak biasa setelah mengonsumsi ASI, Ibu diharapkan untk segera menemui dokter dan berkonsultasi lebih lanjut. Demikian informasi mengenai ASI serta jenis makanan yang dianjurkan untuk dihindari bagi Ibu menyusui. Semoga bermanfaat bagi Ibu dan si Kecil!

DAFTAR PUSTAKA

1. Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA (ed). Kapita Selekta Kedokteran Buku ke-1. Edisi ke-4. Hal 453. Jakarta. 2014: Media Aesculapius.

2. Spatz, DL. Diet for Breastfeeding Mothers. [internet] 2012. [cited May 29 2016]. Available from http://www.chop.edu/pages/diet-breastfeeding-mothers#.V0q5Ur6mxsZ

3. Baby Center Medical Advisory Board. Diet for a Healthy Breastfeeding Mom. [internet] 2015 [cited May 29 2016]. Available from www.babycenter.com/0_diet-for-a-healthy-breastfeeding-mom_3565.bc?showAll=true

4. Anonymous. The Breastfeeding Diet. [internet] 2016 [cited May 29 2016]. Available from http://www.whattoexpect.com/first-year/breastfeeding/breastfeeding-diet.aspx

5. Australian Breastfeeding Association Reviewed. Diet and Weight Loss While Breastfeeding. [internet] 2013 [cited May 29 2016]. Available from https://www.breastfeeding.asn.au/bf-info/common-concerns%E2%80%93mum/diet