tumbuh kembang bayi seputar bayi

Tumbuh Kembang Bayi

Dapatkan beragam informasi penting seputar perkembangan si Kecil dengan pilih kalender pertubuhan bayi berdasarkan :

PERKEMBANGAN BULAN KE
1

Lebih Efektif Mencegah Alergi Makanan dengan Konsumsi Dini atau Menghindari?

Identifikasi Gejala Awal Alergi Susu Sapi pada Bayi

Hal-hal yang Perlu Ibu Ketahui tentang Alergi pada Si Kecil

Keywords : Kesehatan

Setiap tahunnya, diperkirakan terjadi peningkatan gangguan alergi pada bayi sebesar 30 persen. Dampak alergi pada si Kecil dapat muncul sangat dini, bahkan dengan orangtua yang tidak memiliki riwayat alergi. Kami dari Tim Ahli Nutriclub akan menjelaskan lebih lanjut mengenai alergi pada si Kecil.

Kata alergi berasal dari Bahasa Yunani ‘allol’ yang artinya adalah suatu keadaan yang berubah. Alergi (Fakta Tentang Alergi) merupakan reaksi kekebalan tubuh yang menyimpang atau berlebihan. Hal ini dapat menimbulkan gejala yang merugikan tubuh, mulai dari gangguan pernapasan, kulit, hingga pencernaan.

 

Alergi dapat muncul lebih dini sejak si Kecil masih bayi. Ibu perlu memberikan perhatian khusus mengingat dua tahun awal kehidupan merupakan masa emas pertumbuhannya. Apabila tak tertangani dengan baik, maka risiko alergi dapat berlanjut hingga si Kecil dewasa.

 

Mengapa timbul alergi?

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi tidak normal terhadap zat yang dianggap asing bagi tubuh. Zat pemicu alergi (disebut alergen) bisa berupa debu rumah, susu sapi, serbuk sari, makanan tertentu (Alergi dan Makanan yang Harus Dihindari Bayi), atau bulu binatang.

 

Sistem kekebalan tubuh menghasilkan zat yang dikenal sebagai antibodi. Ketika si Kecil alergi, tubuhnya akan membuat antibodi yang mengidentifikasi alergen tertentu sebagai sesuatu yang membahayakan tubuh.

 

Efek alergi pada setiap anak sangat bervariasi. Mulai dari yang bersifat ringan, sedang, sampai yang berat atau anafilaksis (reaksi alergi yang bersifat akut, menyeluruh, dan bisa menjadi berat). Sayangnya, tidak ada kata sembuh untuk alergi. Hal yang dapat Ibu lakukan adalah menghindari alergen (faktor pencetus alergi) dari si Kecil.

 

Spesialis alergi-imunologi anak dari FKUI/RSCM Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K) menyatakan bahwa angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan. Hal ini diduga sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat modern, polusi lingkungan, maupun zat-zat yang ada dalam makanan.

 

Data World Allergy Organization (WAO) 2011 menunjukkan bahwa prevalensi alergi terus meningkat 30-40 persen dari total populasi dunia. Data tersebut sejalan dengan data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC). Tercatat angka kejadian alergi meningkat tiga kali lipat sejak 1993 hingga 2006. Di Indonesia, peningkatan kasus alergi diperkirakan mencapai 30 persen per tahunnya.

 

Pencegahan alergi (Cegah Terjadinya Alergi Pada Bayi) sejak dini sangat dianjurkan guna mengurangi dampak yang ditimbulkan di kemudian hari. Gejala alergi yang dapat menyebabkan gangguan pada hidung, tenggorokan, telinga, mata, saluran pernapasan, sistem pencernaan hingga kulit ini dapat memengaruhi kesehatan dan kenyamanan si Kecil dalam beraktivitas sehari-hari. Dampak dari alergi dapat memengaruhi kualitas hidup si Kecil, seperti terbatasnya aktivitas belajar, bermain, sulit konsentrasi, hingga sulit tidur.

 

Untuk itu, Ibu perlu mengetahui sejak dini apakah si Kecil alergi. Indikator paling tepat untuk mendeteksi dini alergi adalah melalui riwayat keluarga, karena alergi bersifat genetik. Namun jika Ibu dan Ayah tidak memiliki riwayat alergi, si Kecil tetap memiliki risiko alergi sebesar 5-15%.

 

Penyakit alergi hanya mengenai anak yang mempunyai bakat alergi (yang disebut atopik). Bakat alergi/atopik ini diturunkan oleh salah satu atau kedua orangtua. Timbulnya alergi pada si Kecil dapat dicegah jika dilakukan pencegahan primer alergi sejak dini.

 

Tes Alergi

Di dalam tubuh kita, terdapat lima jenis antibodi (imunoglobulin), yaitu imunoglobulin G (IgG), IgA, IgM, IgE, dan IgD. Imunoglobulin E (IgE) adalah antibodi yang banyak berperan pada reaksi alergi. IgE dalam tubuh penderita alergi memiliki kadar yang tinggi, terutama IgE yang spesifik terhadap zat-zat tertentu yang menimbulkan reaksi alergi (alergen) seperti debu rumah, mite (tungau debu rumah), bulu binatang, serbuk bunga, atau makanan tertentu seperti telur, susu, ikan laut, dan lain-lain.

 

Itu sebabnya, tes IgE spesifik diperlukan sebagai salah satu pemeriksaan penunjang untuk menentukan apakah si Kecil menderita alergi atau tidak. Tes IgE spesifik merupakan pemeriksaan kadar IgE alergi tertentu dalam darah.

 

Tes alergi yang umum dilakukan adalah dengan tes tusuk kulit (skin prick test). Namun, kadang kulit penderita kurang sensitif atau sangat sensitif terhadap tes kulit. Misalnya pada bayi atau orang tua, atau seseorang yang tak bisa lepas dari obat alergi. Dalam kondisi tersebut, dapat dilakukan pemeriksaan IgE spesifik terhadap alergen tertentu dalam sampel darah. Tes ini dilakukan dengan metode ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay) di laboratorium.

 

Mencegah terjadinya alergi

Ada dua langkah dalam pencegahan terjadinya alergi, yaitu:

  • Menghindari alergen
  • Cara hidup yang baik

 

Menghindari faktor pencetus alergi akan berhasil apabila Ibu mengetahui apa pencetus alergi si Kecil. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan pengamatan sehari-hari. Misalnya dengan mencatat makanan dan minuman apa saja yang dikonsumsi si Kecil sejak pagi dan mencermati reaksi yang timbul. Misalnya reaksi pada kulit (Alergi pada Kulit Anak), atau frekuensi buang air besar dan teksturnya (cair/padat).

 

Selain melakukan observasi sendiri, cara lain adalah dengan melakukan tes alergi. Hasil pemeriksaan tes alergi dapat memberikan Ibu informasi tentang zat-zat yang dapat memicu terjadinya alergi pada si Kecil.

 

Jika si Kecil didiagnosis mengalami alergi, obat-obatan pencegahan hanya diberikan pada penderita alergi yang kronis/berat atau yang sering kambuh, dan pemberian imunoterapi/desensitisasi (pengebalan terhadap alergen) hanya berhasil bila penderita hanya mempunyai alergi terhadap satu zat saja. Oleh karena itu, cara hidup perlu menjadi perhatian bagi si Kecil yang alergi. Misalnya dengan cukup istirahat, olahraga teratur, disiplin dalam diet yang ditetapkan (Manajemen Alergi Pada Bayi dengan Sistem Pelabelan Makanan), dan hidup dalam lingkungan dengan zat alergen yang minimal.

 

Jika si Kecil didiagnosis mengalami alergi, obat-obatan pencegahan hanya diberikan pada penderita alergi yang kronis/berat atau yang sering kambuh, dan pemberian imunoterapi/desensitisasi (pengebalan terhadap alergen) hanya berhasil bila penderita mempunyai alergi terhadap satu zat saja. Oleh karena itu, cara hidup perlu menjadi perhatian bagi si Kecil yang alergi. Misalnya dengan cukup istirahat, olahraga teratur, disiplin dalam diet yang ditetapkan (Alergi Makanan Pada Balita: Memperkenalkan Makanan Baru Untuk Diet Alergi), dan hidup dalam lingkungan dengan zat alergen yang minimal.

 

 

 

Referensi:

  • Akib A.P.A., Munasir Z., Kurniati N.: .Buku ajar Alergi Imunologi Anak 2. Penerbit Sagung Seto, 2010.
  • Crump VSA. Food allergy in children. Diunduh dari www.qmseminars.co.nz/GPCME2006CDROM/. 
  • Sari Pediatri, IDAI., vol. 7, no. 4, Maret 2006
  • Zeiger RS. Food allergen avoidance in prevention of food allergy in infants and children. Pediatrics 2003 ;111:1662-71.