pertumbuhan balita seputar balita

Pertumbuhan Balita

Dampingi tumbuh kembang si Kecil dengan beragam informasi dengan pilih kalender pertumbuhan balita berdasarkan :

PERKEMBANGAN TAHUN KE
1

5 Cara Membiasakan Gaya Hidup Sehat Pada Balita

Kenali Sejak Dini Tanda-Tanda Autisme pada Balita

Kenali Tanda-Tanda Perilaku ADHD Pada Balita

Keywords : Rutinitas

ADHD adalah kondisi gangguan perilaku berupa ketidakmampuan memusatkan perhatikan, perhatian mudah teralih, impulsif dan hiperaktif.

Perubahan perilaku yang timbul akibat gangguan sistem saraf perlu penanganan lebih spesifik dibandingkan perubahan perilaku yang diakibatkan oleh faktor sosial dan lingkungan. Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan kondisi gangguan perilaku yang terbagi pada perilaku terkait kemampuan konsentrasi dan tindakan hiperaktif. Kenali tanda-tanda Perilaku ADHD sejak dini pada balita dari Tim Ahli Nutriclub.

 

Kenali ADHD Sejak Dini

Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan sistem saraf dengan bentuk gangguan perilaku berupa ketakmampuan memusatkan perhatikan, perhatian mudah teralih, impulsif dan hiperaktif.  ADHD ditemukan pada 6,5% anak-anak dan 2,7% pada remaja. Insiden ADHD 2-3 kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Jumlah penderita ADHD semakin berkurang pada usia yang lebih dewasa.

ADHD diduga terjadi akibat gabungan interaksi genetik dan lingkungan luar, misalnya ibu degnan kehamilannya yang terpapar dengan nikotin, berat badan lahir bayi rendah, atau paparan terhadap timbal dan racun lingkungan lainnya.

Penelitian menunjukkan adanya pengurangan volume pada beberapa bagian otak penderita ADHD bila dibandingkan dengan bukan penderita ADHD. Selain masalah volume otak, penderita ADHD juga mengalami gangguan pada regulasi zat-zat kimia di otak. Penderita ADHD memiliki gangguan dalam menghambat respon, sehingga cenderung  sulit untuk menghentikan responnya terhadap sesuatu.

Diagnosis ADHD tidak memerlukan berbagai tes laboratorium yang rumit. Diagnosis ADHD cukup dilakukan dengan mengamati gejala si Kecil. Walaupun demikian, diagnosis ADHD bukan berarti mudah. Salah satu panduan kriteria diagnosis yang banyak digunakan dokter spesialis kesehatan jiwa dan dokter spesialis anak dalam mendiagnosis ADHD adalah American Psychiatric Association's Diagnostic and Statistical Manual  edisi V (DSM-5).

Did you know?

”Sistem saraf bertanggung jawab untuk mengirim, menerima, dan menafsirkan informasi dari semua bagian tubuh.“

LIHAT LENGKAP

Kategorisasi dan Diagnosis ADHD

Berdasarkan American Psychiatric Association's Diagnostic and Statistical Manual  edisi V (DSM-5), ADHD dibedakan menjadi 3 tipe, yaitu:

  1. ADHD dengan dominan ketidakmampuan memberikan perhatian*

    - Sering gagal dalam memberikan perhatian ketat terhadap hal-hal kecil atau membuat kecerobohan dalam beraktivitas

    - Memiliki masalah dalam mempertahankan perhatian saat menjalankan tugas tertentu

    - Sering tidak terlihat mendengar saat sedang berbicara secara langsung

    - Sering tidak mengikuti perintah dengan lengkap dan gagal dalam mengerjakan tugas

    - Memiliki masalah dalam mengatur jadwal kegiatan

    - Sering menghindari atau tidak menyukai melakukan tugas yang memerlukan usaha mental yang cukup lama (misalkan mengerjakan pekerjaan rumah)

    - Sering kehilangan barang-barang yang penting untuk menjalankan tugas

    - Mudah terpecah konsentrasi

    - Pelupa dalam menjalankan kegiatan sehari-hari

  2. ADHD dengan dominan hiperaktivitas dan impulsivitas*

    Gejala berikut harus dialami setidaknya enam bulan untuk dikatakan positif dan khusus bagi remaja yang berusia hingga 16 tahun harus memenuhi setidaknya enam gejala atau setidaknya lima gejala bila berusia di atas 17 tahun.

    - Sering membuat gerakan-gerakan kecil atau menepuk-nepukkan tangan atau kaki, atau gelisah bila duduk

    - Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi yang mengharuskannya duduk

    - Sering berlari atau memanjat pada situasi yang tidak seharusnya (atau merasa gelisah saat remaja atau dewasa)

    - Sering tidak dapat bermain atau melakukan hobi dengan tenang

    - Sering banyak gerak seperti dikendalikan dinamo

    - Sering banyak berbicara

    - Sering menjawab sebelum selesai diberikan pertanyaan

    - Sering bermasalah dalam menunggu giliran

    - Sering menginterupsi orang lain

  3. ADHD tipe campuran

    Selain menilai gejala yang muncul, beberapa ketentuan berikut harus turut diperhatikan, yaitu:

    - Gejala harus sudah ada sebelum anak berusia dua belas tahun

    - Muncul dalam dua atau lebih situasi (misalkan rumah, sekolah, tempat kerja, pergaulan)

    - Terdapat bukti yang jelas bahwa gejala tadi mempengaruhi fungsi hidup sehari-hari

 

Walaupun nampaknya mudah, namun dokter spesialis anak atau dokter spesialis kesehatan jiwa harus ekstra hati-hati dalam mendiagnosis si Kecil dengan ADHD. Mereka harus memastikan bahwa tidak ada gangguan mental lain pada si Kecil. Si Kecil dengan gangguan cemas akan menunjukkan gejala-gejala yang mirip dengan ADHD.            

Bila si Kecil terbukti menderita gangguan mental lain, misalkan gangguan cemas, maka diagnosis ADHD dapat langsung disingkirkan. Oleh karena perlunya akurasi yang tinggi, maka diagnosis ini sebaiknya diputuskan oleh dokter.

Tiga metode terapi yang diperlukan oleh si Kecil dengan ADHD adalah: edukasi psikologi, penanganan orang tua, serta obat-obatan. Pemilihan obat dilakukan dengan hati-hati sambil memerhatikan gejala yang menonjol pada si Kecil serta efek samping dari masing-masing obat.

Diperkirakan 70-80% pasien anak dengan ADHD akan memperlihatkan gejala yang sama hingga remaja. Gejala ini biasanya akan mereda seiring dengan bertambahnya umur. Hanya 10-20% si Kecil dengan ADHD yang dapat mencapai usia dewasa tanpa membawa gejala-gejala ini serta dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa gangguan apapun. Pada keadaan tertentu, terapi obat perlu dilanjutkan hingga si Kecil mencapai usia dewasa.

 

Ditulis oleh: dr. Kristian WG

Reviewer : dr. Marisa Pudjiadi, Sp.A

 

Daftar Pustaka

(1) Tschudy M, Arcara K. The Harriet Lane handbook. 20Th ed. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2012.

(2) Tasker R, McClure R, Acerini C. Oxford handbook of paediatrics. 2Nd ed. Oxford: Oxford University Press; 2013.

(3) Soreff S. Attention Deficit Hyperactivity Disorder Medscape. 2015

(4) Division of Human Development, National Center on Birth Defects and Developmental Disabilities. Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder (ADHD). Centers for Disease Control and Prevention. 2015

(5) Hill P. Attention-deficit hyperactivity disorder in children and adolescents: assessment and treatment. Advances in Psychiatric Treatment. 2015;21(1):23-30.

Tukarkan Poin Royal Rewards untuk dapatkan beragam Permainan Edukasi untuk mendukung kepintaran si Kecil

JOIN NUTRICLUB MEMBERSHIP

RELATED TOOLS


LIHAT SEMUA TOOLS