Waspadai Infeksi TORCH di Masa Kehamilan - Nutriclub

Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Waspadai Infeksi TORCH di Masa Kehamilan

Infeksi TORCH yang terjadi saat masa kehamilan dapat menyebabkan kecacatan janin, seperti kelainan pada saraf, mata, kelainan otak, paru-paru, telinga, dan fungsi motorik lainnya.

Menjalani masa kehamilan dengan sehat dan normal adalah harapan setiap Ibu. Selama menjalani fase kehamilan, Ibu perlu memperhatikan hal-hal yang berpotensi mengganggu kesehatan janin, salah satunya Infeksi TORCH. Infeksi TORCH yang merupakan singkatan dari Toxoplasma, Others (HIV, Sifilis) Rubella, Citomegalovirus, Herpes, dan Simplek adalah infeksi yang dapat menyebabkan kecacatan pada janin. Dapatkan informasi lebih lengkap seputar infeksi TORCH dari Tim Ahli Nutriclub.

Did you know?

”Bila seseorang terserang parasit Toxoplasma, antibodi Immunoglobulin M (IgM) dalam darah akan meningkat empat kali lebih tinggi dari pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa infeksi sudah aktif di dalam tubuh. Ketahui selengkapnya di sini.“

LIHAT LENGKAP

Bahaya Infeksi TORCH terhadap Kehamilan

Infeksi saat kehamilan bisa berakibat pada kelahiran bayi prematur, yang kerap memiliki tingkat morbiditas yang tinggi, salah satunya cacat bawaan yang menetap, seperti penyakit paru kronik, asma, cerebral palsy, dan gangguan tumbuh kembang atau masalah perkembangan otak.

Ragam penyakit yang muncul fase kehamilan telah berubah menjadi lebih luas, meliputi infeksi bakteri, virus, hingga parasit. Tetapi, infeksi TORCH (Toxoplasma, Others (HIV, Sifilis) Rubella, Citomegalovirus, Herpes Simplek) masih bisa menjadi pijakan awal ketika terjadi kelainan pada persalinan atau kondisi bayi yang dilahirkan.

Kenali Penyebab dan Gejala Infeksi TORCH

Toxoplasmosis

Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Penyakit ini menular dari daging yang terinfeksi, tidak dimasak hingga matang, buah/sayur yang tidak dicuci bersih, tanah dengan feses kucing yang mengandung parasit, hingga melalui infeksi kongenital dari Ibu ke janin melalui plasenta3. Masa Inkubasi parasit sekitar 10-24 hari setelah parasit tersebuh masuk kedalam tubuh. Risiko janin ikut tertular pada trimester 1 sekitar 5-25 %, sedangkan, pada trimester ke 3 sekitar 60-90%, dampak terbesar berbanding terbalik pada janin, terutama pada trimester 1.

Penyakit toxoplasmosis kongenital biasanya ditandai dengan kebutaan, mikrosefalus (kepala bayi kecil dari ukuran normal) atau hidrosefalus. Gejala lainnya bisa berupa anemia, kejang, pembengkakan kelenjar air liur, bisul-bisul di kulit, radang paru-paru, demam, dan pengapuran dalam otak. Gejala-gejala tersebut tampak setelah bayi berusia satu tahun atau lebih. Jika tidak ditangani lebih lanjut, dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan perkembangan fisik dan mental3.

HIV/AIDS

Pasien yang terinfeksi HIV, sebanyak 15-40% memiliki kemungkinan menularkan infeksi kepada si Kecil yang baru lahir melalui plasenta atau saat proses persalinan dan melalui ASI. Ibu yang tidak mendapatkan obat terapi HIV, memiliki resiko 80% menular pada usia kehamilan lanjut (diatas 36 minggu), saat persalinan, dan postpartum. Sedangkan, resiko penularan berkurang menjadi 2% selama trimester I dan II kehamilan.

Infeksi HIV meningkatkan insidensi gangguan pertumbuhan janin dan persalinan prematur pada Ibu yang disebabkan penurunan kadar CD4 dan penyakit yang berkelanjutan. Namun, tidak ditemukan hubungan kelainan kongenital dengan infeksi HIV4.

Sifilis

Sifilis atau penyakit raja singa disebabkan oleh virus Treponema Pallidum. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung atau hubungan seksual, melalui plasenta, serta tranfusi darah. Sifilis dapat ditularkan saat persalinan, tetapi sebagian besar sifilis kongenital ditularkan melalui plasenta5.

Sifilis bisa menyebabkan keguguran, kematian saat lahir, atau sindrom sifilis kongenital. Sindrom sifilis kongenital dibagi menjadi dua, yaitu sifilis kongenital  dini dan lanjut. Sifilis kongenital  dini jika terjadi pada si Kecil berusia kurang dari 2 tahun, meliputi pertumbuhan rahim yang terhambat, misalnya lahir dengan berat badan rendah, kelainan kulit, kelainan tulang, kelainan organ-organ dalam, kelainan mata, hingga kelainan darah. Sedangkan, sifilis kongenital  lanjut ditandai dengan gigi seri yang tidak datar menyerupai gergaji, terdapat kabut putih di kornea mata, dan gejala ketulian5.

Rubella

Penyakit Rubella atau dikenal dengan campak jerman, disebabkan oleh virus Rubella. Penyakit rubella ditularkan melalui saluran nafas. Virus ini memberikan dampak berbahaya pada si Kecil karena bersifat teratogenik, yaitu mampu mengganggu perkembangan janin bahkan menghancurkannya.

Rubella menyebabkan demam, ruam pada kulit, batuk, nyeri sendi, nyeri kepala, pembersaran kelenjar getah bening di daerah telinga atau belakang kepala5.

Pada masa kehamilan, virus Rubella bisa menyebabkan keguguran atau sindroma rubella kongenital. Sindroma rubella kongenital  terjadi sekitar 25% pada trimester pertama, turun menjadi 1% pada trimester kedua dan keatas. Sindroma rubella kongenitalmenyebabkan pertumbuhan janin yang terhambat, gangguan pendengaran, kelainan jantung, gangguan mata seperti katarak, retinopati, gangguan sistem saraf pusat, pembesaran hati dan limpa, sampai retardasi mental5

CMV (Citomegalovirus)

Infeksi citomegalovirus disebabkan oleh citomegalovirus, yang termasuk dalam golongan virus herpes. Infeksi ini menular melalui kontak antar manusia. Gejala dari infeksi CMV adalah demam yang tidak teratur selama tiga minggu atau lebih. Penyakit ini juga dapat menyebabkan keguguran, kebutaan, radang hati, radang paru-paru, bahkan kerusakan otak5.

Herpes Simpleks Tipe II

Virus Herpes Simpleks tipe II menyebabkanlesipada area genital dan sekitarnya, seperti bokong, anus, dan paha. Virus herpes simpleks ditularkan melalui kontak langsung pada hubungan seksual, atau dari Ibu ke janin saat di dalam kandungan maupun saat persalinan.

Virus Herpes Simpleks bisa menular melalui plasenta sampai ke sirkulasi fetal dan menimbulkan kerusakan atau kematian janin. Infeksi neonatal dengan angka mortalitas 60%, dan menyebabkan setengah dari yang hidup menderita cacat bawaan dan kelainan pada mata.

Selain infeksi di atas, masih banyak infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme lain yang dapat berpengaruh terhadap kehamilan, misalnya infeksi saluran kencing, infeksi menular seksual, infeksi paru, atau infeksi lain di tempat tertentu. Yang perlu Ibu lakukan untuk mencegah dan mendeteksi awal terjadinya infeksi pada saat kehamilan adalah:

  1. Skrining awal adanya tanda-tanda infeksi mulai saat merencanakan kehamilan, seperti pemeriksaan TORCH, HIV, infeksi menular seksual.
  2. Lengkapi imunisasi sedini mungkin seperti MMR, Hepatitis B, dan DPT karena beberapa vaksin tidak boleh diberikan saat hamil.
  3. Kontrol kandungan secara teratur, baik di bidan, dokter umum, atau dokter spesialis kandungan.
  4. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
  5. Menjaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi
  6. Melakukan hubungan seksual dan dengan satu pasangan yang aman
  7. Segera periksakan ke dokter jika Ibu menemui tanda-tanda infeksi seperti di atas atau memiliki faktor risiko infeksi.

 

Kenali virus TORCH sejak dini selama masa kehamilan agar Ibu dapat melakukan tindakan pencegahan dan pengobatan lebih dini agar tidak berdampak pada kesehatan Ibu dan si Kecil.

Ditulis oleh : dr. Izzatul Muna

Review oleh : dr. Merwin, Sp.OG

Daftar Pustaka

  1. Kristina MAW, Ryan MM. Influence of infection during pregnancy on fetal development. Society for Reproduction and Fertility. 2013; 1741 - 7899.
  2.  Evans R. Life cycle and animal infection. In : Ho-Yen DO, Joss AWL, editors. Human toxoplasmosis. Oxford : Oxford University Press, 1992. Pp. 26 - 55.
  3. Sri W. Toxoplasmosis dalam kehamilan. Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Kebidanan (internet). 2013
  4.  Donel S, Maya S, Sofie RK. Pencegahan dan penatalaksanaan infeksi kehamilan. Bandung Medical Journal (internet). 2009
  5. Karkata K, Suwardewa TGA. Infeksi TORCH pada ibu hamil di RSUP Sanglah Denpasar. Lab/SMF Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar, Bali, Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran 2006; 151