Riwayat Pencarian

Pencarian Populer

Kesehatan

Inilah Komplikasi Bayi Prematur yang Mungkin Terjadi

Article By : Rachma Novianty

Reviewer : dr. Merry Dame Cristy Pane

Ada beragam komplikasi yang mungkin dialami oleh bayi prematur. Berbagai komplikasi tersebut bisa terjadi karena organ tubuh bayi prematur masih belum berkembang dengan sempurna.

Setiap tahun, ada sekitar 15 juta bayi di dunia yang dilahirkan secara prematur atau lahir sebelum kandungan berusia 37 minggu. Beberapa bayi yang dilahirkan secara prematur ini tetap dapat tumbuh sehat seperti bayi lainnya, namun ada juga yang mengalami komplikasi.

Komplikasi Bayi Prematur yang Mungkin Terjadi

Saat Si Kecil terlahir secara prematur, dokter akan memberikan perawatan intensif agar kesehatannya tetap terjaga. Untuk itu, beberapa tes skrining akan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan, sekaligus untuk memastikan ada tidaknya komplikasi yang disebabkan oleh kelahiran prematur.

Berikut adalah beberapa komplikasi yang dapat dialami oleh bayi prematur:

1. Anemia

Bayi prematur rentan mengalami anemia. Kondisi ini bisa terjadi akibat produksi sel darah merah yang rendah, perdarahan, atau penyakit bawaan, seperti anemia sel sabit dan thalasemia. Bayi dikatakan anemia bila kadar hemoglobin dan sel darah merahnya berada di bawah normal. Pada beberapa kasus anemia yang berat, diperlukan transfusi darah untuk menaikkan kadar Hb dan sel darah merah.

2. Penyakit kuning

Bayi prematur juga berisiko tinggi untuk terkena penyakit kuning. Kondisi ini ditandai dengan kulit dan mata bayi yang berwarna kuning atau ikterik. Penyebabnya adalah tingginya kadar bilirubin dalam darah bayi.

3. Gangguan sistem pernapasan

Komplikasi serius lain yang rentan dialami oleh bayi prematur adalah gangguan pernapasan. Hal ini terjadi karena pada beberapa bayi prematur yang terlahir sangat muda, sistem pernapasannya belum matang atau terbentuk dengan sempurna.

Gangguan pernapasan yang mungkin terjadi adalah respiratory distress syndrome yang disebabkan oleh tidak berkembangnya paru-paru secara normal.

4. Gangguan pencernaan

Gangguan pencernaan, seperti necrotizing enterocolitis (NEC), juga rentan dialami bayi prematur, terutama bayi prematur yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 1,5 kg. Hal ini mungkin terjadi karena sistem pencernaan bayi prematur belum terbentuk dengan sempurna.

5. Gangguan jantung

Bayi prematur juga rentan mengalami penyakit jantung bawaan, seperti patent ductus arteriosus (PDA). Keluhan yang dialami bayi prematur dengan PDA disebabkan oleh kegagalan penutupan ductus ateriosus yang merupakan pembatas antara aorta dan arteri pulmonalis. Jika dibiarkan dan tidak ditangani, PDA dapat menyebabkan gagal jantung.

Selain itu, risiko terjadinya tekanan darah rendah atau hipotensi juga meningkat saat bayi lahir prematur. Hal ini bisa terjadi karena adanya gangguan fungsi jantung dalam memompa darah dan kelainan pada kelenjar adrenal.

6. Gangguan metabolisme

Gangguan metabolisme yang sering dialami bayi prematur adalah hipoglikemia, yaitu rendahnya kadar gula dalam darah. Ini bisa terjadi karena cadangan glukosa dalam tubuh bayi prematur lebih sedikit dibandingkan bayi cukup bulan.

Selain berbagai komplikasi di atas, komplikasi lain yang juga bisa dialami oleh bayi prematur adalah cerebral palsy, gangguan belajar, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan.

Pencegahan Komplikasi Lebih Lanjut pada Bayi Prematur

Bayi prematur yang lahir dengan komplikasi perlu mendapatkan penanganan intensif di ruang NICU (neonatal intensive care unit). Setelah kondisinya stabil dan sudah lebih kuat, barulah bayi boleh dibawa pulang ke rumah.

Di rumah pun, Mama perlu melanjutkan perawatan agar kesehatan Si Kecil tetap terjaga dan tidak terjadi komplikasi lebih lanjut, misalnya kurang gizi atau hambatan tumbuh kembang.

Salah satu hal yang harus Mama perhatikan saat merawat Si Kecil yang lahir prematur adalah asupan nutrisinya. Bayi prematur membutuhkan asupan nutrisi lebih untuk mengejar ketertinggalan tumbuh kembangnya.

ASI tetap diperlukan sebagai asupan utama untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Namun, memberikannya kepada bayi prematur bukanlah hal yang mudah. Beberapa bayi prematur belum memiliki kemampuan menghisap dan menelan yang baik, sehingga ASI perlu dipompa dan diberikan dengan sendok, cangkir, atau pipet. Mama disarankan untuk memberikan ASI sebanyak 8-12 kali dalam sehari, atau setiap 1,5-3 jam.

Satu lagi yang perlu Mama lakukan adalah memantau pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil dengan rutin memeriksakannya ke dokter spesialis anak. Dengan begitu, kesehatan Si Kecil juga dapat terus terpantau, dan bila ada komplikasi akibat kelahiran prematur, dapat diketahui sedini mungkin.

facebook-logo twitter-logo

Referensi:

Mitra, S. & Rennie, J. Neonatal Jaundice: Aetiology, Diagnosis and Treatment. British Journal of Hospital Medicine, 78(12), pp.699-704.

Shariati, et al. (2015). Perinatal Complications Associated with Preterm Deliveries at 24 to 33 Weeks and 6 Days Gestation (2011-2012): A Hospital-based Retrospective Study. Iranian Journal of Reproductive Medicine, 13(11), pp. 697–702.

American Pregnancy Association (2015). Premature Birth Complications. World Health Organization (2018). Preterm Birth.

Kids Health, Nemours (2015). For Parents. Taking Your Preemie Home.

Dahliana, J.K. Ikatan Dokter Anak Indonesia (2017). “Skrining” pada Bayi Baru Lahir, yang Perlu Diketahui oleh Orangtua.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (2013). Pemberian ASI pada Bayi Lahir Kurang Bulan. Mayo Clinic (2018). Patent Ductus Arteriosus (PDA).

Mayo Clinic (2017). Premature Birth. Drugs (2019). Hypotension in Infants.

Bird, C. Very Well Family (2019). How Much Should a Premature Baby Eat at Home? Bird, C. Very Well Family (2019). How Long Should Your Baby Use Preemie Formula? WebMD (2018). What Is Necrotizing Enterocolitis?