With you, in your motherhood journey

Pemeriksaan Selama Kehamilan

Jangan cemas bila ternyata ada masalah pada kehamilan Ibu. Melalui pemeriksaan ini, segala kemungkinan bisa diatasi lebih dini. Tapi, kalau Ibu masih tetap cemas, mungkin pengalaman ibu-ibu lain bisa membantu Ibu. Tentu saja tim ahli kami juga siap menjawab pertanyaan Ibu

dr. Kartiwa Hadi Nuryanto, Sp.OG
Konsultan ObGyn
Ayah dari 2 anak


Print this page   Email a Friend      Share on Facebook   

Lindungi Ibu dan Bayi

Pemeriksaan selama kehamilan, selain untuk memastikan bayi Ibu berkembang sehat dan normal, juga untuk mengetahui kelainan yang mungkin terjadi. Semakin awal kelainan terdeteksi, semakin mudah mengatasinya. Beberapa pemeriksaan berikut adalah yang biasanya dilakukan:

Tes Amniosintesis

Amniosintesis adalah tes untuk mengetahui gangguan genetik pada bayi dengan memeriksa cairan ketuban atau cairan amnion

Cairan yang mengandung sel dan bahan tertentu ini mencerminkan kesehatan bayi,  diambilnya dengan cara menusukkan jarum ke arah kantung ketuban melalui perut Ibu. Tes ini biasanya dilakukan antara minggu 15 dan 20 kehamilan tapi bisa juga di usia kehamilan yang lebih tua.

Tes ini diutamakan untuk  wanita hamil yang berisiko tinggi, yaitu :

  • Wanita yang mempunyai riwayat keluarga dengan gangguan genetik.

  • Wanita berusia di atas 35 tahun.

  • Wanita yang memiliki hasil tes yang abnormal terhadap sindrom down pada trimester pertama kehamilan.

  • Wanita dengan kelainan pada pemeriksaan USG

  • Wanita dengan sensitisasi Rh.

Melalui tes ini, kita akan mengetahui bila ada kelainan janin, kelainan bawaan, jenis kelamin bayi, tingkat kematangan paru janin, dan mengetahui ada tidaknya infeksi cairan amnion (korioamnionitis).



Chorionic villus sampling (CVS)

Hampir sama dengan Amniosintesis, Chorionic villus sampling (CVS) adalah tes yang dilakukan pada awal kehamilan untuk melihat masalah pada perkembangan bayi dari Ibu yang memiliki riwayat masalah genetik.  Apalagi bila Ibu berusia 35 tahun atau lebih saat hamil.

Tapi proses pemeriksaan ini dilakuakn pada awal kehamilan dengan mengambil jaringan pada plasenta dari dalam rahim melalui pembedahan serviks selama setengah jam.

Sebelum melakukan tes ini, konsultasikan pada dokter bersama suami. Karena sekecil apapun, resiko keguguran bias terjadi. Cari informasi sebanyak mungkin dan siapkan mental Ibu untuk menjalaninya.

Bila sudah siap, cobalah rileks beberapa hari sebelum pemeriksaan.

Tes toleransi  gula darah  / Glucose tolerance tests


Tes ini berguna untuk mengetahui apakah Ibu mengalami diabetes atau tidak. Ibu hamil juga memiliki kemungkinan mengalami Diabetes Melitus atau pada ibu hamil disebut Diabetes Melitus Gestasional.

Ibu yang berusia di atas 35 tahun, gemuk sekali, dan pernah mengalami pada kehamilan sebelumnya disarankan untuk melakukan pemeriksaan ini.

Kalau diyantakan postif diabetes, Ibu wajib  menjalankan  diet diabetes dan minum anti-diabetis oral. Kalau kadar gula darah terlalu tinggi, mungkin Ibu perlu dirawat untuk diberikan suntikan insulin.

Bila pada pemeriksaan berat badan bayi  besar sekali,  maka perlu dilakukan induksi pada kehamilan minggu ke 36 sampai 38 agar tidak terjadi komplikasi saat persalinan.

Setelah bayi lahir , umumnya kadar gula darah akan kembali normal.Tapi bila tidak, perlu dilanjutkan pemberian antidiabetes oral sampai jangka waktu tertentu.

Tes Darah

Selama hamil, mungkin Ibu perlu melakukan pemeriksaan darah beberapa kali. Jangan khawatir, pemeriksaan ini tidak beresiko terhadap bayi.

Melalui pemeriksaan darah, bisa diketahui:

  • Kadar zat besi dalam darah. Bila rendah, Ibu akan merasa mudah lelah dan lesu. Masih ingat kan, makanan sumber zat besi yang perlu Ibu konsumsi? Bayam dan daging merah. Bila kadar zat besi Ibu berubah-ubah selama kehamilan, jangan ragu melakukan tes lagi di kehamilan 28 minggu.

  • Golongan darah  dan faktor Rhesus Ibu. Dokter  harus mengetahui golongan darah Ibu, apakah darah Ibu Rhesus positive (RH+) atau Rhesus negative (RH-). Bila darah Ibu RH- dan Ibu mengandung bayi dengan RH+, tubuh Ibu akan memproduksi  antibodi untuk melawan/menentang sel-sel darah RH+ . Ini berbahaya bagi bayi Ibu. Kalau dokter sudah mengetahui golongan darah Ibu, kemungkinan yang akan terjadi bisa diatasi.

  • Infeksi akibat virus  Toxoplasma, Rubella, dan Cytomegalovirus yang berbahaya bagi kesehatan bayi,  pemeriksaan yang sering disebut pemeriksaan TORCH ini perlu untuk  melihat adanya antibodi dalam darah Ibu.

  • Penyakit lain seperti HIV B, Syphilis, bahkan HIV/AIDS.


Tes Urin

Tes urin tidak hanya dilakukan saat memastikan kehamilan. Setelah hamil, tes urin juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah Ibu terpapar obat-obatan tertentu, alkohol, bahkan narkotika.

Efek penggunaan obat tertentu  berdampak buruk bagi perkembangan otak bayi. Penggunaan terus menerus, terutama pada awal  kehamilan, bisa mengacaukan sistem syaraf bayi.



Selain itu, tes urine juga berguna untuk menghindari:

  • Infeksi  Saluran kencing. Protein dalam urin bisa menjadi tanda adanya. 

  • Diabetes karena glukosa dalam  urin  dapat mengindikasikan tingginya kadar gula.