With you, in your motherhood journey

Hamil Dengan Penyakit

Timbulnya penyakit tentu menimbulkan kekhawatiran bagi Anda terkait dengan peluang kehamilan maupun kesehatan janin. Konsultan Ob-Gyn, dr. Kartiwa Hadi Nuryanto, Sp.OG menuturkan penjelasan mengenai penyakit dan virus yang patut Anda waspadai.


Print this page   Email a Friend      Share on Facebook   

MIOM
Miom (disebut juga dengan fibroid atau myoma) adalah sejenis tumor jinak pada dinding rahim. Bermula dari sel otot yang kemudian tumbuh secara abnormal menjadi tumor dan menempel pada dinding rahim. Umumnya miom berukuran kecil, mulai dari sebesar kacang polong hingga sebutir anggur, dan tidak dirasakan keberadaannya karena berkembang secara perlahan. Tidak mengherankan bila banyak miom yang ditemukan secara kebetulan, seperti pada saat melakukan USG kehamilan. Namun, ada pula miom yang berkembang dengan pesat. Perlu diketahui, sebagian besar kasus miom tidak berbahaya dan jarang berubah menjadi kanker.

Penyebab

Pertumbuhan miom terkait dengan faktor hormonal, terutama hormon estrogen. Oleh karena itu, dalam masa kehamilan dimana kadar estrogen sangat tinggi, miom dapat berkembang secara cepat. Hal-hal yang menimbulkan ketidakseimbangan hormonal diantaranya adalah makanan (misalnya makanan siap saji dari hewani yang pertumbuhannya dirangsang hormon estrogen), obesitas, stres, dan daya tahan tubuh rendah. Faktor keturunan juga dianggap berkontribusi untuk memicu timbulnya miom

 

Gejala

Berikut adalah gejala-gejala yang umumnya terjadi apabila terdapat miom pada rahim Anda:

  • Nyeri pada perut atau pinggul

  • Perut terasa penuh

  • Nyeri saat berhubungan intim

  • Ketidaknyamanan di panggul

  • Keguguran

  • Gangguan haid seperti nyeri, tidak teratur, pendarahan lebih banyak dan lebih lama

  • Gejala anemia karena banyak kehilangan darah haid

  • Gangguan buang air kecil dan buang air besar, seperti sering pipis dan sembelit

 

Pengaruh Terhadap Peluang Hamil
  • Tumbuh di saluran leher rahim

  • Memperkecil peluang Anda untuk hamil, karena leher rahim menjadi kecil dan menghambat masuknya sperma ke rahim yang mempersulit pembuahan.

  • Tumbuh di dinding rahim

  • Menghambat penanaman atau implantasi sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim.

 

Pengaruh Terhadap Kehamilan
  • Pada trimester pertama, miom yang membesar akan mendorong janin sehingga tidak dapat menempel dengan baik pada dinding rahim. Akibatnya, kemungkinan terjadinya keguguran semakin besar.

  • Jika kehamilan berlanjut, miom dapat mendesak janin sampai plasenta yang tumbuh di bawah rahim sehingga mengakibatkan pendarahan saat persalinan.

  • Apabila miom tumbuh menghalangi saluran makanan janin, maka pertumbuhan janin akan terganggu karena kekurangan makanan dan oksigen, yang bisa berujung pada kematian.

  • Miom yang terdapat pada bagian atas rahim bisa membuat bayi berada dalam posisi sungsang karena ia sulit bergerak kembali ke posisi normal.

 

Pencegahan & Penanganan

Untuk pencegahan, teruslah menjaga kebersihan alat kelamin dan menjalani pola hidup sehat seperti menerapkan diet sehat berimbang, rutin berolahraga, dan menjauhkan diri dari stres. Sementara untuk penanganan, ada beberapa pilihan metode:

  • Terapi dengan menggunakan pil KB yang rendah estrogen untuk mengendalikan pendarahan haid atau agonis GnRH untuk menyusutkan miom dengan mengurangi jumlah estrogen dalam tubuh.

  • Pembedahan untuk mengangkat miom. Pilihannya adalah miomektomi, yaitu pembedahan yang hanya mengangkat miom dan tetap membiarkan rahim. Ini adalah pilihan tepat bagi wanita yang masih ingin memiliki anak. Pilihan lainnya adalah histerektomi, yaitu pembedahan untuk mengangkat rahim sehingga dapat memecahkan masalah miom secara tuntas. Harap selalu ingat, operasi miom tidak boleh dilakukan dalam masa kehamilan (kecuali yang bentuknya bertangkai) karena pengangkatan miom dapat menimbulkan pendarahan serta mengganggu rahim maupun janin. Untuk mengangkat miom, biasanya dilakukan tiga bulan setelah persalinan.

  • Tindakan tanpa pembedahan yang disebut embolisasi, dengan menyumbat aliran darah ke miom melalui pipa tipis sehingga miom akan menyusut.

 

KISTA OVARIUM

Kista ovarium adalah kantung kecil yang berkembang dalam ovarium (indung telur) berisi cairan, bisa kental seperti gel atau bisa juga cair. Sebenarnya kebanyakan kista tidak berbahaya. Namun, ada beberapa kista yang menimbulkan masalah seperti nyeri haid, pendarahan, gangguan kehamilan, dan kemandulan.

 

Kista terbentuk ketika folikel (kantong) pada ovarium gagal untuk pecah dan melepaskan sel telur, sehingga cairannya tetap tinggal dan membentuk kista berukuran kecil (< 4 cm). Kondisi ini disebut kista fungsional yang bersifat normal, jinak, tidak berpengaruh terhadap kesuburan, dan akan hilang dengan sendirinya.

 

Jenis-jenis kista ovarium antara lain:

  • Kista Corpus Luteum
  • Ini adalah jenis kista yang paling umum terjadi. Biasanya tidak menimbulkan gejala apapun dengan diameter 2-6 cm. Namun, jika ukurannya membesar dan menyebabkan batang ovarium terlilit, maka akan menimbulkan rasa sakit dan dibutuhkan tindakan operasi untuk menanganinya.

  • Kista Serosum
  • Kista ini berisi cairan bening yang bentuk dan warnanya seperti air perasan kunyit. Jika terdapat pada indung telur, akan mudah pecah. Kista yang proses pembesarannya sangat dipengaruhi siklus haid dan kehamilan ini sering berubah menjadi kanker ovarium.

  • Kista Dermoid
  • Kista jenis ini umumnya menyerang wanita yang berusia lebih muda dan dapat berkembang dengan ukuran yang besar (15 cm). Isinya tidak hanya cairan menyerupai mentega, tapi juga lemak, rambut, hingga tulang rawan. Kista dermoid dapat menyebabkan posisi tuba fallopi terlilit.

  • Kista Endometriosis
  • Kista ini biasanya berisi darah kecokelatan dan ukurannya berkisar antara 2-20 cm. Penyebabnya bisa karena infeksi kandungan yang menahun, misalnya keputihan yang tidak ditangani sehingga kuman masuk ke dalam selaput perut melalui saluran ovarium. Kista endometriosis menyerang wanita usia subur, menimbulkan nyeri yang hebat saat haid, dan mengganggu kesuburan.

 

Penyebab

Berikut sejumlah faktor yang berhubungan dengan kista ovarium

  • Riwayat kista ovarium sebelumnya

  • Siklus haid tidak teratur

  • Perut buncit

  • Menstruasi di usia dini (11 tahun atau lebih muda)

  • Sulit hamil

  • Penderita hipotiroid (berkurangnya hormon tiroid)

  • Penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi

 

Selain faktor-faktor di atas, ada pula beberapa faktor lainnya seperti pencemaran udara yang melemahkan daya tahan tubuh, keturunan, dan makanan berlemak tinggi.

 

Gejala

Sebagian besar wanita tidak menyadari bila dirinya mengidap kista ovarium. Namun, ada beberapa wanita yang mengalami gejala-gejala berikut:

  • Kram perut bawah atau nyeri panggul yang hilang timbul

  • Siklus haid tidak teratur

  • Nyeri haid yang hebat

  • Sakit saat buang air kecil atau buang air besar

  • Mual dan muntah

  • Keluarnya flek darah dari vagina

 

Pengaruh Terhadap Peluang Hamil

Ada anggapan bahwa seorang wanita yang memiliki kista akan sulit hamil. Padahal, dalam kenyataannya, kehamilan tetap dimungkinkan terjadi, asalkan kista bersifat jinak dan berukuran kecil (< 5 cm). Suatu jenis kista yang memang dapat menghambat kesuburan adalah kista endometriosis. Bila kista endometriosis tergolong ringan (stadium 1 dan 2), maka dapat diangkat dengan operasi dan kemungkinan besar masih bisa kembali hamil. Sedangkan jika kista endometriosis sudah masuk stadium 3 dan 4, maka akan lebih sulit untuk hamil kecuali melalui inseminasi buatan.

 

Pengaruh Terhadap Kehamilan

Kista ovarium yang berukuran kecil biasanya tidak berisiko menimbulkan komplikasi kehamilan sehingga tidak membahayakan janin. Lain halnya bila kista berukuran besar (6-8 cm) tumbuh dan pecah. Meskipun tidak membahayakan janin, namun rasa sakit yang ditimbulkan dapat memicu kelahiran prematur atau keguguran.

 

Pencegahan & Penanganan

Seperti halnya miom, pencegahan kista ovarium bisa dilakukan dengan menjalani gaya hidup yang baik, yaitu diet sehat berimbang dan berolahraga secara teratur. Namun, untuk kista yang berasal dari sisa-sisa sel embrio, sayangnya tidak dapat dicegah. Untuk penanganan, dokter biasanya akan memberikan obat pereda rasa sakit yang aman bagi Anda dan janin, sambil terus memantau perkembangan kista. Biasanya kista akan menyusut dan menghilang dengan sendirinya saat memasuki trimester kedua kehamilan. Jika kista tidak juga mengecil atau pecah, maka kemungkinan dokter akan menyarankan pembedahan.

 

Faktor-faktor yang menentukan tipe pembedahan antara lain adalah usia pasien, keinginan pasien untuk memiliki anak di kemudian hari, kondisi ovarium, dan jenis kista. Pembedahan yang dijalani bisa hanya mengangkat kista (cystectomy) atau mengangkat seluruh ovarium termasuk tuba fallopi (salpingoo-ophorectomy). Operasi pengangkatan kista saat hamil tidak akan mengganggu janin, malah akan menyelamatkannya karena bisa terhindar dari komplikasi selama hamil.

 

HUMAN PAPILLOMA VIRUS (HPV)

Dari ratusan jenis HPV, ada empat tipe HPV yang biasanya menginfeksi manusia, yaitu:

-  Tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin pada pria maupun wanita, serta kanker pada penis (jenis risiko rendah).

-  Tipe 16 dan 18 yang menyebabkan kanker serviks (leher rahim) dan kanker vulva pada wanita (jenis risiko tinggi).

 

Cara penularan virus ini adalah melalui beragam bentuk kontak seksual maupun non-seksual seperti dari pakaian dalam atau handuk yang tidak bersih dan dipakai bergantian. Sebenarnya sistem kekebalan tubuh mampu melawan HPV. Namun, ketika kondisi imunitas menurun, maka HPV akan menyerang dan menimbulkan penyakit.

 

Gejala

Seseorang dapat terinfeksi selama beberapa tahun sebelum kutil kelamin timbul. Saat muncul, kutil kelamin dapat berbentuk luka yang datar, kecil, berbentuk seperti kembang kol atau tonjolan batang kecil. Pada wanita, kutil kelamin paling sering muncul pada vulva, tetapi bisa juga terdapat di vagina, leher rahim, atau anus. Pada pria, kutil kelamin bisa timbul di penis dan skrotum atau sekitar anus. Meski begitu, kutil kelamin jarang menimbulkan rasa sakit atau tidak nyaman. Sedangkan wanita yang terinfeksi jenis HPV yang menyebabkan kanker serviks biasanya tidak mengalami tanda atau gejala tertentu.

 

Pengaruh Terhadap Peluang Hamil

Karena kutil kelamin umumnya terletak di luar vagina dan rahim, maka tidak berpengaruh terhadap peluang wanita untuk mengandung. Jadi, seorang wanita yang mengidap kutil kelamin masih diperbolehkan untuk mempunyai anak.

 

Wanita yang didiagnosa kanker serviks pada stadium awal masih memungkinkan untuk hamil, karena terapi yang dilakukan hanya pengangkatan mulut rahim (cone biopsy) sehingga rahim dan indung telurnya masih ada dan berfungsi dengan baik. Meski demikian, diperlukan pengawasan ketat dari dokter kandungan. Sedangkan pada wanita dengan kanker serviks yang menjalani pengangkatan rahim dan radioterapi, kemungkinan untuk hamil sangat kecil.

 

Pengaruh Terhadap Kehamilan

Selama masa kehamilan, kutil kelamin dapat membesar karena meningkatnya hormon estrogen. Kutil pada dinding vagina akan membuat vagina menjadi kurang fleksibel dan elastis, sehingga disarankan untuk menghilangkannya karena ada kemungkinan mengganggu proses persalinan. Bagi ibu hamil yang mengidap kutil kelamin, operasi caesar adalah pilihan metode persalinan yang dianjurkan. Karena jika bayi dilahirkan melalui persalinan normal, biasanya ia susah bernafas dan menjadi sakit.

 

Bagi ibu hamil yang terkena kanker serviks, faktor-faktor yang dijadikan pertimbangan dalam melakukan penanganan antara lain adalah usia kehamilan yang berkaitan dengan peluang hidup janin di luar rahim dan stadium dari kanker. Bila kehamilan masih dalam tahap trimester pertama, aborsi bisa dipertimbangkan dan dilanjutkan dengan menangani sang ibu. Tetapi jika janin sudah berusia di atas 28 minggu, maka bisa dipertimbangkan untuk dilahirkan, baru kemudian ibunya diobati.

 

Pencegahan dan Penanganan

Karena umumnya HPV ditularkan melalui kontak seksual, maka langkah pencegahan yang harus dilakukan adalah melakukan hubungan sex yang sehat dan aman, serta tidak berganti2 pasangan. Vaksin sangat efektif bagi wanita yang belum pernah terkena infeksi HPV. Sedangkan bagi mereka yang sudah terkena infeksi HPV, maka efektifitasnya berkurang . Untuk wanita yang sedang hamil, maka ia baru boleh divaksinasi setelah bayinya lahir.

 

Perlu diingat bahwa wanita yang sudah divaksinasi bukan berarti sama sekali akan terbebas dari kanker serviks, karena masih dapat terkena tipe lain dari virus lainnya yang tidak diproteksi oleh vaksin. Pemberian vaksinasi tidak berarti bahwa seorang wanita tidak perlu untuk melakukan tes Pap Smear secara rutin sebagai pencegahan sekunder dalam mendeteksi perubahan prekanker pada serviks yang dapat menyebabkan kanker.

 

Untuk penanganan kutil kelamin, dapat menggunakan obat yang dipakai langsung ke bagian kutil secara teratur, antara lain podofiloks dan asam triklorasetik. Namun, bagi ibu hamil, penggunaan profiloks tidak diperbolehkan. Jika penggunaan obat tidak membuahkan hasil, dokter mungkin akan menyarankan salah satu prosedur, yaitu cryotherapy (pembekuan dengan nitrogen cair), elektrokauter (menggunakan arus listrik untuk membakar kutil), bedah, atau operasi laser.

 

Untuk kanker serviks yang ditemukan pada tahap dini, maka keberadaan rahim masih bisa dipertahankan dengan beberapa pilihan terapi, yaitu konisasi, krio, dan elektrokoagulasi. Tatalaksana kanker serviks adalah tergantung stadiumnya, mulai dari tindakan operasi dengan atau tanpa mempertahankan rahim, sampai dengan pemberian radiasi.