With you, in your motherhood journey

INFEKSI PASCA MELAHIRKAN

Setelah proses persalinan Anda lalui dan si Kecil telah lahir, ada satu hal yang perlu Anda waspadai, yaitu infeksi pasca melahirkan (nifas). Konsultan ObGyn dr. Kartiwa Hadi Nuryanto, Sp.OG memberikan penjelasannya untuk Anda.


Print this page   Email a Friend      Share on Facebook   

Infeksi nifas atau dalam istilah medis disebut juga dengan infeksi puerperalis merupakan sejenis infeksi bakteri yang umumnya menyerang sistem reproduksi, terutama rahim, yang menimbulkan endometritis (infeksi pada lapisan dalam rahim atau endometrium). Dalam beberapa kasus, infeksi nifas juga dapat menyerang titik-titik tertentu di tubuh seperti saluran kemih, payudara, paru-paru, dan pembuluh darah. Infeksi bisa timbul di antara tenggang waktu 6 minggu setelah proses melahirkan.

 

Apa Penyebabnya?

Sekitar 2-4 % ibu yang melahirkan secara normal memiliki risiko terkena infeksi nifas. Angka ini akan meningkat 5-10 kali lipat bila persalinan ditempuh melalui operasi caesar. Risiko bagi ibu yang melahirkan secara normal akan lebih tinggi bila menjalani proses persalinan dengan menggunakan vacuum atau forcep. Sementara bagi ibu yang menjalani operasi caesar, risiko terjangkit infeksi nifas akan lebih tinggi lagi bila operasi dilakukan setelah ketuban pecah.

Infeksi nifas yang menyerang payudara (mastitis) disebabkan oleh kontaminasi bakteri bila puting susu lecet. Infeksi pada paru-paru (pneumonia) bisa terjadi pada ibu yang menerima pembiusan umum. Sedangkan infeksi pada pembuluh darah (phlebitis) disebabkan oleh jarum suntik yang terkontaminasi.

 

Penyebab-penyebab lainnya dari infeksi nifas adalah:

  • Alat-alat yang digunakan pada saat persalinan maupun sesudahnya kurang bersih atau kemungkinan terkontaminasi bakteri dari petugas ruang bersalin.
  • Ibu dengan proses persalinan yang lama atau mendadak sehingga tidak tertangani dengan baik.
  • Luka guntingan atau robekan dalam proses persalinan.
  • Tertinggalnya sisa ari-ari, selaput ketuban, atau darah yang membeku di dalam rahim.
  • Kondisi yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti malnutrisi, pendarahan, kelelahan, dan pre-eklamsia.

 

Apa Gejalanya?

Secara umum, ibu yang terjangkit infeksi nifas akan mengalami demam tinggi (suhu tubuh melebihi 38° C) pada 2 hari dalam 10 hari pertama setelah melahirkan, dengan pengecualian 24 jam pertama.

 

Secara spesifik, gejala-gejala infeksi nifas berbeda sesuai dengan lokasi infeksi:

 

Endometritis (infeksi pada endometrium)

    - Suhu tubuh meningkat.

    - Nyeri pada bagian bawah perut

    - Keputihan

    - Keluarnya cairan rahim yang berbau dalam masa nifas, biasanya terjadi 2-7 hari setelah melahirkan.

 

Mastitis (infeksi pada payudara)

    - Suhu tubuh meningkat

    - Pembengkakan lokal

    - Payudara lembek

    - Nyeri otot

 

Pnuemonia (infeksi pada paru-paru)

    - Suara napas yang tidak normal

    - Batuk-batuk

    - Rasa tidak nyaman di bagian dada

 

Infeksi saluran kemih

    - Sulit buang air kecil atau terasa nyeri saat melakukannya

    - Air seni terlihat keruh atau mengandung darah

 

Apa Penyebabnya?

Infeksi yang tidak tertangani akan berdampak serius. Jadi, segera periksa ke dokter bila Anda mengalami demam atau gejala-gejala lain seperti yang disebut di atas. Biasanya Anda akan diberi antibiotik, bisa berupa oral, suntikan, atau lainnya. Selain antibiotik, Anda mungkin juga akan diberikan obat-obatan lainnya untuk penanganan infeksi secara tuntas. Jangan lupa memberitahu dokter bahwa Anda sedang menyusui agar dapat diberikan pengobatan yang sesuai dan tidak mengganggu produksi ASI serta aktivitas menyusui. Minumlah dalam jumlah yang banyak untuk mencegah dehidrasi dan perbanyak istirahat, sehingga akan lebih membantu tubuh dalam melawan infeksi.

 

Bagaimana Cara Pencegahannya?

Ada beberapa gerakan yang bisa ibu coba untuk memutar posisi bayi secara alami dari posisi sungsang ke posisi normal. Pastikan untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli kandungan (obgyn) sebelum ibu melakukannya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

  • Jaga kondisi kesehatan selama hamil, dengan mengonsumsi makanan yang bersih dan memenuhi pola diet sehat berimbang, serta minum air dalam jumlah yang cukup.
  • Menjaga kebersihan daerah sekitar vagina dan luka bekas episiotomi (prosedur bedah untuk melebarkan jalan lahir), terutama setelah buang air kecil dan buang air besar. Cuci tangan dengan bersih sebelum menyentuh area genital dan anus, basuhlah dengan gerakan dari arah depan ke belakang.
  • Pastikan kepada dokter dan petugas ruang bersalin agar alat-alat persalinan dan juga ruang bersalin terjaga kesterilannya.